Lembongan Berduka

  • 17 Oktober 2016
  • Dibaca: 208 Pengunjung
Lembongan Berduka

Jembatan Kuning untuk penyeberangan Nusa Ceningan dan Nusa Lembongan, Kecamatan Nusa Penida, mendadak ambruk, Minggu (16/10) petang pukul 18.10 Wita. Akibatnya, 8 pamedek  tewas, sementara 37 korban lainnya terluka. 
Jembatan Kuning yang ambruk ini panjangnya mencapai 100 meter dengan lebar 1 meter. Jembatan yang terbuat dari kayu dan beton ini menghubungkan kawasan Nusa Lembongan dan Nusa Ceningan, yang dipisahkan laut. Anak-anak muda menyebut jembatan bercat kuning ini sebagai Jembatan Cinta. 

Saat jembatan ambruk kemarin petang, sekitar 75 pamedek yang rata-rata berpakaian adat sembahyang melintas di atas Jembatan Kuning. Mereka hendak tangkil ke Pura Bakung di Banjar Ceningan Kangin, Desa Lembongan, Kecamatan Nusa Penida serangkaian pujawali pada Radite Wage Krulut, Minggu kemarin. Mereka sebagian naik sepeda motor, sebagian lagi jalan kaki di atas jembatan sepanjang 100 meter.

Begitu jembatan ambruk, motor-motor yang ditunggangi langsung tercebur ke laut berkedalaman lebih dari 1 meter. Demikian pula pamedek yang jalan kaki, sebagian terjebur ke laut. Akibatnya, 8 orang tewas, sementara 37 korban lainnya terluka. Dari 37 korban terluka ini, 2 orang di antaranya luka berat. Para korban dibawa ke Puskesmas Nusa Penida II.

Hingga tadi malam pukul 22.15 Wita, 37 korban terluka sudah dibolehkan pulang, sementara 2 orang yang lukanya berat masih memerlukan perawatan medis di Puskesmas Nusa Penida II.

Sebetulnya, Pemkab Klungkung sudah memasang papan peringatan agar berhati-hati melintas di Jembatan Kuning, sejak Selasa (12/10) lalu. Pasalnya, beberapa tali sling ditemukan sudah putus, besi pun telah berkarat karena termakan usia. Namun, imbauan peringatan tersebut tidak diindahkan.

Beberapa detik sebelum jembatan ambruk, jumlah pamedek yang melintas mencapai sekitar 75 orang, baik naik sepeda motor maupun jalan kaki. Tepat pukul 18.10 Wita, tiba-tiba mulai terdengar suara retakan di jembatan. Hal ini sontak membuat pamedek yang berada di atas jembatan panik dan segera menepi. 

Suasana pun kian mencekam disertai teriakan histeris. Pasalnya, posisi jembatan kian miring paasca terdengar bunyi retakan. Dalam tempo 5 menit, Jembatan Kuning putus di tengah-tengah hingga tenggelam ke laut sekitar pukul 18.15 Wita. Puluhan pamedek yang terjebak di dalamnya juga berjatuhan ke laut, demikian pula sepeda motor dan pengendaranya. Untuk menghindari tertimpa puing jembatan ambruk, sejumlah pamedek juga ada yang langsung melompat dari atas sejauh mungkin ke tengah laut.

Jumlah korban tewas akibat musibah jembatan ambruk ini mencapai 8 orang, termasuk salah satunya balita usia 3 tahun, serta dua anak berusia 9 tahun dan 6 tahun. Sedangkan jumlah korban terluka masih simpang siur. Ada yang menyebut hanya 12 orang, tapi ada pula mengatakan kor-ban terluka tembus 37 orang.

Para korban tadi alam dievakusi petugas TNI/Polri, BPBD Klungkung, dan satuan lainnya, dengan dibantu warga sekitar. Mereka dibawa ke Puskesmas Nusa Penida II di Desa Lembongan. Selain korban tewas berjumlah 8 orang dan puluhan korban terluka, perugas gabungan tadi malam masih melakukan pencarian sejumlah pamedek yang hilang.

8 korban tewas dalam musibah ambruknya Jembatan Kuning, kemarin petang sudah teridentifikasi. Mereka semuanya krama dari kawasan seberang Nusa Penida, Klungkung. Sebanyak 8 orang di antaranya pamedek asal Desa Jungut Batu, sementara 1 korban tewas lagi asal Desa Lembongan.

Mereka masing-masing I Wayan Sutamat, 49 (asal Banjar Jungut Batu Kelod, Desa Jungut Batu), I Putu Ardiana, 45 (asal Banjar Jungut Batu Kangin, Desa Jungut Batu), Ni Wayan Merni, 55 (asal Banjar Jungut Batu Kaja, Desa Jungut Batu), I  Putu Surya, 3 (balita asal Banjar Jungut Batu Kaja, Desa Jungut Batu), I Gede Senan, 40 (asal Desa Lembongan), Ni Wayan Sunati, 56 (asal Banjar Klatak, Desa-Desa Jungut Batu), Ni Putu Krisna Dewi, 9 (asal Banjar Ancak, Desa Desa Jungut Batu), dan Ni Kadek Mustika, 6 (asal Banjar Ancak, Desa Desa Jungut Batu).

Belum diketahui pasti, apa penyebab ambruknya Jembatan Kuning hingga menelan begitu banyak korban. Namun, diduga kuat musibah terjadi karena tapi sling putus akibat beban yang melebihi batas kekuatan penyangga jembatan. Lagipula, beberapa tali sling diketahui sudah putus jauh sebelumnya, hingga dipasangi papan peringatan hati-hati!

Bupati Klungkung Nyoman Suwirta sebelumnya sempat terjun meninjau Jembatan Kuning, Selasa, 12 Oktoiber 2016  lalu, untuk mengecek kondisi jembatan penyeberangan Nusa Ceningan-Nusa Lembongan ini. Bupati Suwirta kala itu terjun, karena mendapat informasi sejumlah tali sling telah putus. Ketika terjun ke lokasi, Bupati Suwirta kala itu langsung memerintahkan pasang papan peringatan berbunyi ‘Hati-hati, Jembatan Rawan Jebol’. Bupati  pun mewanti-wanti warganya agar tidak melewati Jembatan Kuning yang menjadi objek wisata ini. “Apa yang menjadi kekhawatiran saya dan Perbekel setempat pun terbukti. Sebelum kejadian, krama naik jembatan secara bersamaan saat pujawali di Pura Bakung,” sesal Bupati Bupati Suwirta, tadi malam. “Sebelumnya, kami telah memberikan peringatan kepada warga untuk tidak menyeberang melalui Jembatan Kuning secara bersamaan,” imbuhnya.

Pasca tragedi maut kemarin petang, Bupati Suwirta berjanji akan mempercepat perbaikan Jembatan Kuning. Pihaknya juga sudah membuat perencanaan untuk jembatan baru yang menghubungkan Nusa Ceningan dan Nusa Lembongan. Sedangkan Jembatan Kuning yang ambruk ini direncanakan untuk perbaikan dengan anggaran Rp 200 juta tahun 2017

  • 17 Oktober 2016
  • Dibaca: 208 Pengunjung

Berita Terkait Lainnya

Cari Berita